Sudah banyak yang menderita karena rokok. Banyak cara sudah
dilakukan untuk kampanye anti rokok. Tetap saja ada beberapa orang yang tidak mengindahkan, entah karena tidak tahu atau tidak perduli. Masih sering kita jumpai perokok di tempat
umum, di acara resmi maupun tak resmi, bahkan di pengajian.
Sebenarnya bukan karena tidak tahu atau tidak mengerti,
tetapi karena tidak mau merubah perilaku dan kebiasaan. Awalnya hanya coba-coba
kemudian menjadi kebiasaan. Selanjutnya akan menjadi kebutuhan, karena rokok
dapat memberikan rasa nyaman. Nikmat sesaat yang membinasakan.
Mungkin ada keluarga atau orang dekat kita yang masih
berkawan dengan rokok. Jangan bosan-bosan mengingatkan, karena akibatnya tidak
hanya menimpa perokok saja tetapi juga yang menghirup asapnya. Bagaimana jika
tidak mempan dengan nasehat? Seorang teman bercerita, dia bilang pada suaminya
yang perokok, “Jika terus merokok kamu telah menanam penyakit dalam dirimu, dan
itu akan membuatmu mati lebih cepat, lalu dikuburkan…..selesai. Tidak kau
pikirkan anakmu yang masih butuh perlindungan ayahnya?” Jadi, merokok adalah tindakan egois!
Contoh nyata korban rokok ada banyak di sekitar kita. Seorang
tokoh agama di dekat rumah divonis terkena kanker paru. Penyebabnya, kebiasaan
merokok sejak muda. Saudaranya bercerita, beliau kuat tidak makan nasi seharian
tetapi tidak bisa tanpa merokok walau beberapa jam saja. Bagaimana bisa? Sebab
rokok selalu tersedia melimpah. Banyak tamu yang datang (sowan) membawa rokok.
Nah…memberi rokok = memberi penyakit ?!
Segera tinggalkan kebiasaan memberi rokok kepada seseorang,
tamu, tukang/pekerja, sopir atau siapapun. Berikan saja jajanan atau mentahan(uang)nya
saja. Itu akan lebih bermanfaat.
Sudahkah kita bertindak bijak?
Sudahkah kita bertindak bijak?
Tidak ada komentar:
Posting Komentar