Kamis, 19 Oktober 2017

Adzan Terakhir


Sejak Rasulullah wafat, Bilal meyakinkan dirinya sendiri untuk tidak lagi melantukan Adzan di puncak Masjid Nabawi di Madinah. Bahkan permintaan Khalifah Abu Bakar ketika itu, yang kembali memintanya untuk menjadi muadzin tidak bisa Ia penuhi.
Dengan kesedihan yang mendalam Bilal berkata : “Biarkan aku hanya menjadi muadzin Rasulullah saja. Rasulullah telah tiada, maka aku bukan muadzin siapa-siapa lagi.”
Khalifah Abu Bakar pun bisa  memahami kesedihan Bilal dan tak lagi memintanya untuk kembali menjadi muadzin di Masjid Nabawi, melantunkan Adzan panggilan umat muslim untuk menunaikan shalat fardhu.
Kesedihan Bilal akibat wafatnya Rasulullah tidak bisa hilang dari dalam hatinya. Ia pun memutuskan untuk meninggalkan Madinah, bergabung dengan pasukan Fath Islamy hijrah ke negeri Syam. Bilal kemudian tinggal di Kota Homs, Syria.
Sekian lamanya Bilal tak berkunjung ke Madinah, hingga pada suatu malam, Rasulullah Muhammad SAW hadir dalam mimpinya. Dengan suara lembutnya Rasulullah menegur Bilal : “Ya Bilal, Wa maa hadzal jafa? Hai Bilal, mengapa engkau tak mengunjungiku? Mengapa sampai seperti ini?
Bilal pun segera terbangun dari tidurnya. Tanpa berpikir panjang, Ia mulai mempersiapkan perjalanan untuk kembali ke Madinah. Bilal berniat untuk ziarah ke makam Rasulullah setelah sekian tahun lamanya Ia meninggalkan Madinah.
Setibanya di Madinah, Bilal segera menuju makam Rasulullah. Tangis kerinduannya membuncah, cintanya kepada Rasulullah  begitu besar. Cinta yang tulus karena Allah kepada Baginda Nabi yang begitu dalam.
Pada saat yang bersamaan, tampak dua pemuda mendekati Bilal. Kedua pemuda tersebut adalah Hasan dan Husein, cucu Rasulullah. Masih dengan berurai air mata, Bilal tua memeluk kedua cucu kesayangan Rasulullah tersebut.
Umar bin Khattab yang telah jadi Khalifah, juga turut haru melihat pemandangan tersebut. Kemudian salah satu cucu Rasulullah itupun membuat sebuah permintaan kepada Bilal.
Paman, maukah engkau sekali saja mengumandangkan adzan untuk kami? Kami ingin mengenang kakek kami.”
Umar bin Khattab juga ikut memohon kepada Bilal untuk kembali mengumandangkan Adzan di Masjid Nabawi, walaupun hanya satu kali saja. Bilal akhirnya mengabulkan permintaan cucu Rasulullah dan Khalifah Umar Bin Khattab.
Saat tiba waktu shalat, Bilal naik ke puncak Masjid Nabawi, tempat Ia biasa kumandangkan Adzan seperti pada masa Rasulullah masih hidup. Bilal pun mulai mengumandangkan Adzan.
Saat lafadz “Allahu Akbar” Ia kumandangkan, seketika itu juga seluruh Madinah terasa senyap. Segala aktifitas dan perdagangan terhenti. Semua orang sontak terkejut, suara lantunan Adzan yang dirindukan bertahun-tahun tersebut kembali terdengar dengan merdunya.
Kemudian saat Bilal melafadzkan “Asyhadu an laa ilaha illallah“, penduduk Kota Madinah berhamburan dari tempat mereka tinggal, berlarian menuju Masjid Nabawi.  Bahkan dikisahkan para gadis dalam pingitan pun ikut berlarian keluar rumah mendekati asal suara Adzan yang dirindukan tersebut.
Puncaknya saat Bilal mengumandangkan “Asyhadu anna Muhammadan Rasulullah“, seisi Kota Madinah pecah oleh tangis dan ratapan pilu, teringat kepada masa indah saat Rasulullah masih hidup dan menjadi imam shalat berjamaah.
Tangisan Khalifah Umar bin Khattab terdengar  paling keras. Bahkan Bilal yang mengumandangkan Adzan tersebut tersedu-sedu dalam tangis, lidahnya tercekat, air matanya tak henti-hentinya mengalir. Bilal pun tidak sanggup meneruskan Adzannya, Ia terus terisak tak mampu lagi berteriak melanjutkan panggilan mulia tersebut.
Hari itu Madinah mengenang kembali masa saat Rasulullah masih ada diantara mereka. Hari itu, Bilal melantukan adzan pertama dan terakhirnya semenjak  kepergian Rasulullah. Adzan yang tak bisa dirampungkannya.



Sabtu, 09 September 2017

Memperbanyak Pilihan

Sudah sering kita mendengar ungkapan, hidup adalah pilihan. Seiring perjalanan waktu, pasti kita pernah menghadapi beberapa pilihan. Setidaknya ada tiga fase dalam kehidupan, dimana kita harus memilih. Yaitu, memilih sekolah, memilih pasangan hidup dan memilih pekerjaan. 

Setiap pilihan pasti ada konsekwensinya. Seberapa banyak pilihan yang kita punya? Misalnya dalam memilih sekolah, samakah pilihan untuk nilai ujian 7 dan 9 ? Pasti berbeda. Juga dalam hal pekerjaan, banyak yang merasa tidak cocok dengan tempatnya bekerja tapi hanya bisa mengeluh karena tidak punya pilihan lain. Bagaimana caranya agar kita bisa punya banyak pilihan?

Menurut trainer Jamil Azzaini, ada dua cara yang bisa kita lakukan. Pertama, dengan meningkatkan kompetensi kita. Bila kita punya kompetensi tinggi, maka akan memiliki "daya tawar" yang tinggi dan membuat kita lebih dihargai. 

Orang yang bekerjasama atau mempekerjakan kita akan merasa takut kehilangan kita. Bila nilai kita bagus, banyak pilihan sekolah yang mau menerima.

Kedua, dengan meperluas pengaruh kita. Kompetensi yang sudah dimiliki harus kita bagikan kepada orang lain. Semakin banyak berbagi dengan kesungguhan, pengaruh kita akan semakin luas dan kemampuan/ kompetensi kita semakin meningkat pula. 

Jadi, pilihan ada ditangan kita. Terus belajar dan berbagi. Jangan egois dan merasa hebat. Agar kita termasuk orang yang punya banyak pilihan, tidak menjadi orang lemah dan tertindas.

Senin, 16 Januari 2017

Dream of Joy

Novel bersetting sejarah Cina tahun 1957-1960 saat pemerintahan sosialis komunis dibawah pimpinan Mao. Kisah tentang Joy, gadis kelahiran Amerika yang memilih kembali ke Cina dan meninggalkan ibunya. Joy dibawa ke Amerika saat masih dalam kandungan ibunya sebagai pelarian. Saat usianya 19 tahun, ia ingin bertemu ayah kandungnya di Cina.

Setelah bertemu ayahnya,.Z.G Li, seorang seniman terkenal di Shanghai, Joy mengikutinya mengajar kebudayaan di pedesaan Naga Hijau. Bertemu orang2 yang ramah dan suasana desa yang subur dan tentram, membuatnya gembira. Sampai kemudian jatuh hati pada seorang pemuda desa yang berbakat seni, Tao, dan kemudian menikah. Menjalani hidup di pedesaan dengan menggarap ladang, menanam tanaman sesuai perintah ketua agung Mao, meskipun salah tetap harus dilaksanakan.

Hingga terjadilah gagal panen dan masa paceklik tiba. Cara menanam yang salah menjadi penyebabnya. Kekurangan bahan makanan makin diperparah dengan keharusan menyetor hasil pertanian ke pusat. Setahun bisa bertahan, tidak untuk tahun kedua. Sampai tidak ada apapun yang tersisa, bahkan rumput liar dan tikuspun sudah habis dimakan. Satu persatu mati, yang masih hidup pun hanya tulang terbungkus kulit dan bengkak2 di beberapa bagian tubuh. Tidak boleh ada yang keluar masuk daerah pedesaan, surat2 disensor, hingga tak ada bantuan apapun.

Meskipun Joy dan Tao tidak akur lagi setelah pernikahannya, mereka mempunyai bayi perempuan yang cantik. Samantha, nama bayi itu, masih sedikit beruntung karena mendapat kiriman susu formula dari neneknya. Kiriman makanan yang lain banyak yang disita oleh pimpinan di desa. Banyak bayi mati dan kemudian dimasak untuk dimakan anggota keluarga yg lain.

Tidak ada yang tahu kondisi Joy, bahkan ayah dan ibunya (Pearl) yang tinggal di Shanghai tidak bisa menemuinya tanpa adanya surat perjalanan. Sampai suatu hari, bayi Joy ditukar dengan bayi lain, untuk dijadikan hidangan seluruh keluarga. Joy sempat melarikan diri meski tidak berhasil. Kemudian dengan membujuk pimpinan desa agar memotret karya seni mural dan mengirimya ke kota, maka Joy bisa mengirim kabar kepada ibunya.

Ibu dan ayahnya segera menjemput Joy, Samantha dan Tao di desa, meski dengan sedikit bujuk rayu untuk bisa mendapatkan ijin. Pemandangan mengerikan ada di sepanjang jalan, mayat2 berlimpangan tak ada yang mengurus.

Berbulan bulan Joy dan Samantha dirawat ibu, yang sebenarnya adalah bibinya, hingga kembali sehat. Kemudian mereka merencakan pergi keluar dari Cina. Ibu kandung Joy, May, menunggu di Hongkong dan akan membawa mereka ke Los Angeles, Amerika.