Senin, 16 Januari 2017

Dream of Joy

Novel bersetting sejarah Cina tahun 1957-1960 saat pemerintahan sosialis komunis dibawah pimpinan Mao. Kisah tentang Joy, gadis kelahiran Amerika yang memilih kembali ke Cina dan meninggalkan ibunya. Joy dibawa ke Amerika saat masih dalam kandungan ibunya sebagai pelarian. Saat usianya 19 tahun, ia ingin bertemu ayah kandungnya di Cina.

Setelah bertemu ayahnya,.Z.G Li, seorang seniman terkenal di Shanghai, Joy mengikutinya mengajar kebudayaan di pedesaan Naga Hijau. Bertemu orang2 yang ramah dan suasana desa yang subur dan tentram, membuatnya gembira. Sampai kemudian jatuh hati pada seorang pemuda desa yang berbakat seni, Tao, dan kemudian menikah. Menjalani hidup di pedesaan dengan menggarap ladang, menanam tanaman sesuai perintah ketua agung Mao, meskipun salah tetap harus dilaksanakan.

Hingga terjadilah gagal panen dan masa paceklik tiba. Cara menanam yang salah menjadi penyebabnya. Kekurangan bahan makanan makin diperparah dengan keharusan menyetor hasil pertanian ke pusat. Setahun bisa bertahan, tidak untuk tahun kedua. Sampai tidak ada apapun yang tersisa, bahkan rumput liar dan tikuspun sudah habis dimakan. Satu persatu mati, yang masih hidup pun hanya tulang terbungkus kulit dan bengkak2 di beberapa bagian tubuh. Tidak boleh ada yang keluar masuk daerah pedesaan, surat2 disensor, hingga tak ada bantuan apapun.

Meskipun Joy dan Tao tidak akur lagi setelah pernikahannya, mereka mempunyai bayi perempuan yang cantik. Samantha, nama bayi itu, masih sedikit beruntung karena mendapat kiriman susu formula dari neneknya. Kiriman makanan yang lain banyak yang disita oleh pimpinan di desa. Banyak bayi mati dan kemudian dimasak untuk dimakan anggota keluarga yg lain.

Tidak ada yang tahu kondisi Joy, bahkan ayah dan ibunya (Pearl) yang tinggal di Shanghai tidak bisa menemuinya tanpa adanya surat perjalanan. Sampai suatu hari, bayi Joy ditukar dengan bayi lain, untuk dijadikan hidangan seluruh keluarga. Joy sempat melarikan diri meski tidak berhasil. Kemudian dengan membujuk pimpinan desa agar memotret karya seni mural dan mengirimya ke kota, maka Joy bisa mengirim kabar kepada ibunya.

Ibu dan ayahnya segera menjemput Joy, Samantha dan Tao di desa, meski dengan sedikit bujuk rayu untuk bisa mendapatkan ijin. Pemandangan mengerikan ada di sepanjang jalan, mayat2 berlimpangan tak ada yang mengurus.

Berbulan bulan Joy dan Samantha dirawat ibu, yang sebenarnya adalah bibinya, hingga kembali sehat. Kemudian mereka merencakan pergi keluar dari Cina. Ibu kandung Joy, May, menunggu di Hongkong dan akan membawa mereka ke Los Angeles, Amerika.