Selasa, 08 Maret 2016

MARAH

Marah tidak akan pernah menyelesaikan masalah. Semua pasti sudah tahu itu. Siapapun setuju bahwa orang yang paling kuat bukanlah mereka yang bisa menaklukkan dunia, tapi mereka yang bisa menahan amarahnya.

Beberapa kondisi bisa mencetuskan kemarahan. Meski berbeda tiap-tiap orang kadar kemarahan dan reaksinya. Ada yang secara frontal terlihat nyata, ada yang bisa mengendalikannya secara elegan. Ada orang yang mudah sekali marah, hanya karena senggolan di jalan. Sebaiknya harus bisa menjaga emosi dan tahu situasi. Tidak lucu, bila seorang guru marah-marah disebabkan muridnya salah menjawab soal. Atau pegawai yang marah-marah karena deadline.

Kebalijan dari pemarah adalah sabar. Sabar bukan berarti tidak pernah marah, tetapi hanya berbeda kadar dan reaksi marahnya.

Diam saat marah terkesan lebih elegan daripada melampiaskan dengan teriak-teriak atau memaki. Karena saat marah, kita cenderung tidak berpikir jernih. Ucapan lebih ngawur, tindakan terkesan bodoh, apalagi jika harus mengambil keputusan, pasti sering membuat kesalahan.

Jadi, apa untungnya marah? Tidak ada, jika hanya membuat kesalahan baru. Sangat berguna, jika menjadikan kita terpacu melakukan yang terbaik dan menjaga kehormatan diri, keluarga dan agama.