Rabu, 21 Juli 2010

Berbeda Rasa

Seperti biasa, pagi yang sibuk, menyiapkan sarapan dan bekal untuk buah hati, memasak, mencuci pakaian, baru kemudian berangkat kerja. Jadilah pembalap amatir agar tidak terlambat. Sambil bersholawat, kupacu motor dengan laju. Untung motor 100cc, jadi jarum spido hanya mampu mencapai angka 60-70.

Konsentrasi penuh pada jalan di depan, bahkan lampu lalin tak terpikirkan. Kendaraan didepan jalan ikut jalan, berhenti ikut berhenti. Sempat melirik sebentar lapu diperempatan sudah menyala merah, tapi kendaraan di depan dan samping masih jalan, jadi ikut jalan terus. Merasa bersalah juga sih, tapi cuma sebentar, karena ada bisikan “aah tidak apa, kan banyak yang tetap melaju tadi”.

Alhamdulillah, akhirnya sampai juga dengan selamat. Termasuk selamat dari semprit pak polisi karena melanggar lampu merah.

Tepat pukul 12 siang, saatnya pulang. Badan letih, cuaca panas dan perut keroncongan, membuat ingin segera sampai di rumah. Cukup untuk alasan melaju kencang. Banyangan nasi rawon memenuhi kepala, sehingga tidakmemperhatikan lampu merah. Terus melaju dengan lancar sebab jalanan memang agak sepi di siang begini. Tersadar telah melanggar lampu merah, tapi sudah terlanjur. Jantung berdebar takut kena tiang polisi sambil terus berdoa semoga tak ada polisi yang melihat tadi. Sampai di rumah, dada ini masih dag dig dug. Setelah cuci tangan dan makan, baru terasa lega.

Dua pelanggaran kulakukan hari ini, tak sengaja(perjaanan pulang) dan terpaksa(saat berangkat). Pelanggaran yang sama tapi kenapa rasanya berbeda ya? Saat melakukan kesalahan seorang diri, menyesal dan takut sekali. Tapi saat bersama-sama, rasanya lebih tenang, penyesalan dan takut hanya sebentar.

Itukah mungkin yang terjadi pada para petinggi kita saat ini? Ketika melakukan korupsi bersama-sama tak ada perasaan bersalah dan takut dosa. Hanya Tuhan yang tahu jawabannya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar