Hawa malam di hari senin 30 oktober
1984 itu terasa panas, acara dunia dalam berita yang dibacakan pembaca
berita seangkatan Anita rahman dan Idrus di TVRI baru saja usai mengumandangkan
jingle khas penutupnya dilanjutkan acara Arena dan Juara, sebuah
acara favorit saya meskipun hanya berupa rekaman-rekaman pertandingan
menarik di beberapa cabang olah raga.
Saat memasuki kamar depan dan
membuka jendela untuk memberi hawa segar masuk kedalamnya, bunyi petasan yang
meletup-letup terdengar bersahutan dari arah belakang rumah. Cukup lama saya
menyimak suara janggal itu, karena biasanya hajatan penduduk pinggir kompleks
perumahan umumnya dilaksanakan di hari sabtu atau minggu dan mereka sering
membunyikan petasan tanda pembuka pesta.
Suara teriakan tiba-tiba membahana
di malam itu, sahut menyahut memberi tahu berita yang terdengar simpang siur,
“Gudang peluru meledak lagiii!”.
Kaki saya spontan melintasi bibir
jendela kamar dan melompatinya hingga sampai ke teras depan. Ibu, kakak dan
adik saya keluar memastikan berita, saat itu ayah tak ada di rumah, ia berdinas
di satu kantor militer di pusat Jakarta.
Tubuh kurus saya yang mulai
meninggi melesat, menyusuri jalan depan rumah dan melewati
lorong kecil arah barat dekat lapangan badminton untuk melihat apa yang
terjadi, terdengar ibu berteriak memanggil.
Saya tahu dimana gudang peluru
itu, tempat dimana saya sering bersama sahabat kecil saya, wiranto,Yudi,
Iyok dan Narto bermain ditepi-tepinya. Gudang peluru itu berbentuk bagai
enam makam besar dengan gundukan berbentuk parabola yang di masing-masing
ujungnya terdapat tangga menuju kebawah dan dibatasi oleh kerangkeng besi kokoh
dan pintu kayu maha berat.
Letaknya yang dekat dengan Dapur
tempat memasak bagi keperluan pasukan penghuni asrama yang tinggal didalam
markas lebih membuat kami menjuluki tempat itu sebagai “Belakang dapur”
dibanding menyebutnya sebagai gudang peluru. Mulanya kami tak menyadari bahwa
tempat bermain kami itu tersimpan ribuan peluru roket besar sebesar batang
kelapa yang dulu disiapkan oleh presiden soekarno untuk menghantam tentara
kerjaaan Belanda guna membebaskan Irian barat, sampai sebuah letusan kecil
pernah terjadi pada bulan Juli 1984 sebelumnya namun berhasil dipadamkan.
Saya menyeruak dan menerjang
berlawanan arah dengan beberapa Provost yang mencoba menghadang laju
orang-orang yang sangat ingin tahu, dan tiba-tiba…..kami saling bertubrukan.
Lampu seketika padam mengakibatkan pandangan yang gelap gulita tanpa cahaya.
Para Provost berteriak mengusir
siapa saja yang berjalan ke arah gudang peluru yang jaraknya hanya 1-2
kilometer saja dari rumah kami. Saya panik dan berlari berbalik arah, suara
dentuman mulai mengeras dan menggetarkan bumi.
Tiba dirumah, sekeluarga kami nampak
panik kecuali ibu. Ia sibuk berunding dengan para tetangga untuk berencana seterusnya
akan berbuat apa namun dentuman demi dentuman membuyarkan semuanya, satu demi
satu tetangga kembali kerumah dan mempersiapkan pengungsian apa adanya.
Sementara Ibu memasukkan segala
pakaian yang bisa dibawa, kami anak laki-laki mempersiapkan segala surat yang
perlu dibawa dalam sebuah kopor. Adik bungsu saya menangis sejadi-jadinya,
karena ketakutan luar biasa dan juga menangisi sofa baru di ruang tamu
kesayangannya yang baru saja dibeli ayah seminggu yang lalu. Ibu duduk berdoa
diruang tamu lalu meletakkan sebuah Alqur’an di atas meja dan mengajak kami
bergerak meninggalkan rumah. Ketenangan ibu saat itu memberi kekuatan
tersendiri.
Di jalan utama ribuan orang mulai
bergerak, takbir berkumandang, doa dihantarkan dari mulut semua orang, tangis
anak-anak kecil yang tak terperikan ketakutannya karena tak tahu ada apa
gerangan sementara manusia dan kendaraan tumpah ruah mencari jalannya
masing-masing. Gelegar yang menggoyang bumi bersahutan tiada henti di
belakang kami dalam gelap gulita tanpa penerangan.
Perjalanan yang sungguh dahsyat
ditingkahi dengan teriakan “Awaaaas…!” berkali-kali. Peringatan itu
berulangkali dikomando para lelaki dan tentara muda yang ikut juga meninggalkan
markasnya ketika bulatan merah melintas beberapa meter diatas kepala mendesirkan
gemericik pasir dan hawa yang amat panas pada tengkuk. Ribuan orang seirama
bertiarap di jalan-jalan lalu kembali berlari menuju arah selatan tanpa tahu
mau kemana tujuan akhirnya.
Desir panas datang dari roket yang
meluncur tak tentu arah kearah timur dan beruntung hanya beberapa kearah
selatan tempat arah kami berusaha mengungsi, sebuah pilihan yang tepat yang
hanya Tuhan saja yang tahu mengapa semua orang memilih arah itu. Roket itu
melesat silih berganti bagai tiada kendali dan bunyi dentuman beberapa ton besi
yang panjang menghujam tanah kebun-kebun yang kami lalui siap mencabut nyawa
ribuan orang yang jatuh bangun bertiarap dan berdiri dengan teriakan
masing-masing.
Dalam kilatan cahaya yang menerangi
gulita malam itu sebuah mobil berjalan perlahan bersama dibelakang kami
sekeluarga dan sorot lampunya menandai punggung kami lalu terdengar teriakan
orang dari dalamnya mengajak kami sekeluarga untuk ikut ke dalam mobil itu.
Mereka tetangga kami cukup jauh yang mengenali ibu karena ibu sering membuatkan
baju untuknya.
Karena kami masuk rombongan pertama,
jalan masih memungkinkan untuk ditembus, sementara dibelakang kami lautan
manusia harus berjalan tertatih tatih, jatuh bangun menuju tempat yang aman
sejauh mungkin menghindar lokasi ledakan. Kembali Tuhan memberikan kendaraan
cepat untuk kami meninggalkan epicentrum ledakan yang merontokkan fondasi dan
dinding-dinding rumah yang kami tinggalkan.
Kami tiba lebih cepat di kawasan
Pondok Cina disbanding mereka yang tak beruntung hingga harus terus menyusuri
jalan yang panjang dimalam itu. Ketika tiba di tanah yang datar depan halte
Universitas Indonesia yang kala itu masih belum beroperasi, kami memandang
kearah utara melihat langit memerah meletup letup dengan bara yang membumbung
serta kilatan roket yang melintas diangkasa siap memangsa apa saja yang ada di
depannya. Sekonyong-konyong ditengah doa untuk para tetangga dan kawan-kawan
yang tengah berjalan mengungsi, sebuah ledakan maha dahsyat menghantam
wajah-wajah yang cemas, buliran pasir yang terhempas dari arah utara membuat
sebuah desingan hebat hingga membuat kami tersungkur di jarak yang demikian
jauh dari tempat ledakan. Semua kembali ke mobil dan meneruskan perjalanan
menuju depok tempat dimana beberapa kerabat yang mau menampung kami sebagai
pengungsi.
Malam itu seluruh wilayah Jakarta
selatan dan timur morat-marit, roket berdentam ke tanah menghajar apa saja
dibumi tak ada yang menghentikannya. Sungguh suatu kemurahan Tuhan, tak ada
satupun roket itu meledak pada titik jatuhnya hingga korban tak banyak jatuh
karena ledakan, padahal di dalam gudang itu terlontar peluru dan rudal berjenis
roket berjarak tembak 15 km yang bila peluru ini meledak, seorang anak yang
berada 100 meter dari ledakan akan muntah darah karena jantungnya tergetar.
Kemudian ada howitzer 140 mm, ada peluru-peluru meriam anti Tank. Juga di situ
disimpan bahan peledak TNT dalam pak-pak lima pon (TEMPO).
Malam itu kami tidur dalam
pengungsian, disebuah rumah seorang wartawan di Depok sementara ayah yang
bergegas menuju rumah kami di tengah tugasnya hanya bisa berdiri di lapangan
seberang Trakindo bersama Pangab Jenderal L.B. Moerdani, Pangdam V Jaya Mayor
Jenderal Try Sutrisno, Kapolri Jenderal Anton Sudjarwo, dan Kapolda Metro Jaya
Mayjen Soedarmadji yang sama sama berada dilokasi itu karena tak mungkin untuk
bergerak meninjau langsung ke lokasi lebih dekat.
Dalam catatan beberapa majalah dan
Koran seperti Tempo, Sekitar 370 pasien diungsikan ke berbagai tempat: RS
Pertamina, RS Yayasan Jakarta, ke Apotek Retno, Gereja HKBP, Balai Rakyat,
Masjid - yang berlokasi agak jauh dari gudang mesiu itu. Dua pasien meninggal.
kena serangan jantung. Dan karena panik 35 bayi dapat diungsikan, tapi tanda
pengenal bayi yang tak sempat dipasang. Setelah semua pasien diungsikan, baru
sebuah peluru menghajar Asrama Putri II. Peluru itu menembus tembok, tembok pun
hancur. Sebuah pesawat televisi masih tampak utuh terjepit reruntuhan tembok.
Dalam ledakan malam itu para Marinir
menyelamatkan tank dan panser menjauhi tempat kebakaran, sementara puluhan
mobil pemadam kebakaran semula berniat memadamkan api tapi langsung berbalik
arah karena yang dihadapi adalah enam buah gudang peluru, satu kendaraan
tertinggal dilokasi karena kepanikan yang terjadi.
Hingga esok paginya, ayah tak tahu
dimana kami berada demikian juga kami tak tahu ayah dimana, saat itu tak ada
mobile phone yang bisa saling memberi kabar. Hari kedua ketika ledakan agak
mereda saya meminta ijin ibu untuk pergi sendiri kembali kerumah dan ia
mengijinkan dengan wajah khawatir.
Dengan menumpang kendaraan apa saja
saya berhasil bertemu ayah di depan rumah yang nyaris rata dengan tanah.
Serpihan mortir menancap didinding-dinding yang tersisa. Uniknya bangunan rumah
kami hancur rata dengan tanah namun masih ada ruangan yang berdiri kokoh satu
petak saja yaitu ruang tamu. Dindingnya utuh namun kaca-kaca hancur tak tentu
bentuknya. Disana sofa baru yang dibeli ayah sudah terselimuti serpihan debu,
dan diatas meja kaca yang masih utuh, satu buah kitab suci Alqur’an dimana ibu
meletakkannya sebelum mengungsi masih ada diatasnya tanpa tergeser sedikitpun.
Saya membayangkan betapa bahagianya adik bungsu saya jika tahu sofa
kesayangannya masih utuh tanpa rusak sedikitpun.
Mulai hari itu, saya sendiri dan
ayah hidup dalam tenda pengungsian sementara ibu dan adik serta kakak tetap
berada di kawasan depok hingga situasi aman. Berdiri mengular di depan dapur
umum untuk menerima makan pagi siang dan malam sudah menjadi keharusan yang
harus dihadapi murid SMP seperti saya. Tinggal menyebut anak siapa, maka
sebongkah daging, ikan dan sayur serta nasi akan ada dalam dekapan.
Maka
ketika dalam sebuah kesempatan saya mengajak ketiga anak lelaki saya tidur
dalam dingin malam dikawasan Cibodas dengan tenda yang terus berogoyang tertiup
angin, saya menyampaikan cerita ini pada mereka bahwa kapanpun dan dimanapun
kita hidup bencana selalu siap menelan kita sebagai manusia, tak peduli di kota
atau didesa. Mereka saya siapkan untuk bisa hidup dalam dekapan hangatnya hotel
bintang lima, namun tak ada salahnya mereka juga bersiap untuk bisa hidup dalam
tenda pengungsian ketika Tuhan menguji hidup kita.
Ketika
langit malam runtuh saat itu, Tuhan berseru dalam gemuruh dan desingan peluru,
“Tugas Manusia adalah berusaha dan Tuhan senantiasa menyiapkan hadiah bagi
setiap mahlukNya yang Bersabar”.
Oct
30, 1984-2012
Tidak ada komentar:
Posting Komentar