Malam itu, Hisyam bin Ismail Al Makhzumi tak dapat memejamkan matanya. Padahal ia tinggal di istana yang megah yang segala sudutnya menyebarkan aroma wangi. Kamarnyapun dipenuhi perabot indah, sesuai dengan kehidupan penguasa atau gubernur Madinah yang masyhur.
Pikirannya sangat terganggu oleh kabar yang dibawa teman lamanya dari Damaskus, yang datang secara sembunyi-sembunyi tadi pagi. Sebuah berita buruk telah sampai kepadanya, bahwa ia akan dicopot dari jabatan gubernur Madinah.
Hiyam sangat sedih, karena tringat bahwa sebagai penguasa, ia sering bertindak semena-mena. Menempuh berbagai cara sesukahati saat menyelesaikan masalah yang muncul. Dia bahkan melakukan cara yang sangat buruk dalam memberantas upaya perlawanan terhadap kekuasaan. Dan ia memperoleh amarah dan murka rakyat demi meraih kepuasan penguasa.
"Oh, betapa ruginya diriku akibat mereka dan betapa aku telah menciptakan kerugian di tengah manusia. Aku tak memperoleh sesuatupun selain amarah Sang Pencipta dan makhluk ciptaanNya. Andai saja aku berbuat adil dan kasih pada rakyat, maka yang rugi hanyalah Bani Umayyah, dan aku tetap memperoleh keuntungan besar. Keuntungan yang tak akan habis, yakni ridlo Ilahi dan ridlo manusia. Kemarin aku adalah sepatu di telapak kaki khalifah, ia gunakan untuk menginjak leher para pembangkang dan pemberontak. Namun kini, aku hanyalah sepatu usang yang dipenuhi sobekan di sana - sini dan hanya layak dilemparkan ke tempat sampah," kata Hisyam sembari menghapus airmatanya.
Pagi pun menjelang. Dengan pesasaan enggan, Hisyam meninggalkan kediamannya menuju singgasana kekuasaannya, melalui jalan - jalan kota Madinah dengan konvoi resmiyang mengiringinya sebagaimana biasa. Walaupun demikian, ia merasakan sedih dan duka menyelimuti dirinya.
Iring - iringan yang menyertai gubernur pun tiba di istana. Hisyam segera duduk ai atas singgasana kekuasaannya sebagaimana yang ia lakukan setiap hari. Tak terengar suara apapun, senyap. Suasana beku dalam ruangan itu membuatnya semakin gelisah dan goyah.
Beberapa waktu kemudian, datang seorang budak, membawa surat dari khalifah. Padangan mata Hisyam begitu nanar saat membaca isi surat khalifahWalid bin Abdul Malik baris demi baris.
Dalam surat itu dijelaskan tentang pencopotan dirinya dan penggantinya. Bahwa yang menggantikan posisinya adalah Umar bin Abdul Aziz, pemuda berusia duapuluh lima tahun yang sedaang tumbuh sebagai lelaki dewasa yang setiap orang meperbincangkan kemuliaan akhlaknya.
Jika sekarang ia ibarat burung tanpa sayap, apa yang menyebabkannya tetap tinggal di tempat itu? Hisyam berusaha menguasai diri lalu berusaha menuju pintu depan, menyeret kakinya perlahan -lahan agar tidak terjerembab ke atas tanah.
Dan sebelum tiba di rumah tedengar seruan pengumuman, "Wahai penduduk Madinah! Khalifah memerintahkan pencopotan Hisyam sebagai gubernur dan mengangkat Umar bin Abdul Azis sebagai penggantinya."
Jantung Hisyam seakan copot mendengar semua itu. Dunia seakan runtuh menumpanya. Ini bukan hanya perkara pencopotan belaka, tapi besok, ia akan berdiri di tengah lapangan yang luas dengan kepala tertunduk, sementara seluruh penduduk Madinah, kecil atau besar, laki perempuan, seorang tokoh atau rakyat jelata, semuanya akan mendatanginya untuk mengambil Qishas darinya.
Ia segera memasuki rumahnya dengan tergesa-gesa, tak lagi berpikir rasional, bahkan bersikap bagai pemuda linglung yang akan kabur meninggalkan kehidupannya agar terhindar dari hari pembalasan, hari ditegakkannya qishas yang menakutkan itu.
Sambil bolak - balik kesana kemari denagn bingung, ia berkata kepada isrinya, "Ayo cepat! Kita segera pergi dari sini. Khalifah telah mencopotku dan memutuskan Qishas atas diriku."
Istrinya sangat terkejut mendengarnya. Dengan tergesa segera mengemas barang-barang yang sekiranya diperlukan selama perjalanan. Walaupun tak tahu pasti kemana tujuan perlajanan mereka. Lalu segera meninggalkan istana indahnya dan bermaksud menaiki kuda tunggangannya.
Namun, tiba - tiba, sekelompok pasuka datang dan segera mengelilinginya. Pemimpinnya berteriak, " Hendak kemana?"
"Ke tempat yang saya sukai."
"Tidak, wahai Hisyam bin Ismail Al Makhzumi! Khalifah telah menetapkan bahwa besokadalah hari qishas. Perintah khalifah harus dipatuhi. Cepat! Kembali ke istanamu!"
Keesokan harinya, Hisyam tampak berdiri dengan perasaan yang sangat hina dan malu di depan rumah Marwan bin Hakam. Sementara ribuan penduduk Madinah lalu lalang dihadapannya sambil menamparnya, mencacimaki dan melaknatnya. Seorang budak hitam berteriak lantang mendekati Hisyam dengan senyum mengejek di bibirnya.
Tapi, apakah perkara ini hanya selesai sampai di sini? Mana Zainal Abidin bin Husain bin Ali? Kemana perginya ahlulbait dan para pengikutnya? Mereka pasti akan membunuhnya akibat kezhaliman dan penganiayaan yang selama ini mereka terima darinya.
Siang menjelang, matahari kian terik tatkala penduduk Madinah menyaksikan Zainal Abidin muncul bersama rombongannya yang terdiri dari orang - orang yang setia padanya dan ahlul bait. Ketakutan pun menghinggapi dada Hisyam membayangkan kematian semakin mendekat bersama langkah - langkah Zainal Abidin.
Tatkala tiba dihadapan Hisyam yang telah menyerah pasrah, putus asa dan saat napas kematian menggapai kerongkongannya, ZainalAbidin berkata, "Salam sejahtera untukmu, wahai Hisyam!"
Beliau mengulurkan tangannya, menyalaminya dan memegangnya erat. Hisyam benar - benar menyerah pasrah, menundukkan kepala lalu menangis di hadapan Zainal Abidin.
"Kalau engkau membutuhkan sesuatu, maka kami akan memenuhinya untukmu, dan bila engkau memiliki hutang di wilayah ini, maka akan segera melunasinya."
Isak tangis Hisyam tedengar kian keras. Zainal Abidin segera berlalu meninggalkan tempat itu bersama keluarga dan para pengikutnya. Tak seorangpun di antara mereka yang memandang wajah Hisyam dengan tatapan mengejek atau ucapan menyakitkan hati. Tak seorang pun.
Sambil menjauh darinya, Zainal Abidin bergumam, "Dia kini adalah orang yang lumpuh dan tak memiliki kekuatan sedikitpun, Sedangkan kita ebih tinggi dan lebih besar dari sekedar menyakiti dan mencaci orang - orang yang lemah."
Setelah itu, orang - orang pun menghentikan qishas yang mereka lakukan atas Hisyam.
Ribuan kenangan dan nostalgia melintas dalam benak Hisyam sepanjang masa yang mengerikan Matahari yang sejak pagi menerpa tubuhnya, sesaat lagi terbenam di ufuk barat. Lapangan yang tadinya sesak dengan manusia, kini lengang. Tinggallah Hisyam menjadi salah satu kisah yang patut dikenang dalam panggung sejarah pemerintahan seorang gubernur. Kisah yang layak dijadikan sebagai pelajaran sekaligus cerita yang membangkitkan kemarahan, kesediahn dan duka lara.
Sumber: Mereka yang Mencari Surga ( Najib Kailani)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar